keberkahan ilmu dari guru
Salahsatu upaya untuk mendapatkan keberkahan ilmu, tambahnya, adalah dengan menghormati guru (kiai) yang menjadi perantara aliran ilmu Allah. Dari sinilah karakter adab seorang murid atau santri teruji. "Menghormati di sini dalam rangka mendapatkan barokahnya guru atau kiai kita. Guru atau kiai pasti mendoakan murid atau santrinya.
MitraOktafisa Al'ain Guru SMAN 3 Jombang Berharap Keberkahan Ilmu
Guruorang pekerjaanya (mata pencahariannya, profesinya) mendidik, guru adalah seseorang dengan profesi yang sangat mulia dan istimewa yaitu mendidik, dan mengajarkan ilmu.Dengan keilmuan luar biasa yang diajarkannya tersebut, seorang guru akan mendapatkan derajat kemuliaan dan kedudukan luar biasa disisi Allah Sebagaimamna dijelaskan dalam Al-Qur`an surat Al-Mujadalah ayat 11
Kemudianarah mereka mempersalahkan guru sebagai pihak yang bersalah akan ketidakberhasilan yang mereka capai. Sikap yang menurut saya tidak pantas mereka tujukan. Bukan karena keberpihakan saya pada guru, tapi lebih ke arah keberkahan ilmu. Saya juga mantan siswa yang bisa dibilang tidak lurus-lurus saja di kelas.
Memangbisa dijadikan contoh guru yang satu ini. Tidak sekedar mengejar materi tapi sampai memikirkan akan keberkahan dalam ilmu tersebut. Jika ilmu tidak disamapaikan maka kita akan berdosa, jika ilmu yang kita miliki kita bagi maka kita akan mendapatkan pahala dan gantinya langsung dari yang kuasa berupa keberkahan Dunia dan Akherat.
On Peut Se Rencontrer En Anglais. Melihat pelajar hari ini entah itu siswa, mahasiswa, ataupun santri rasanya berbeda dengan pelajar zaman dulu. Pelajar dulu mereka sangat ta’zhim menghormati guru dan dengan berkah itulah mereka mudah mendapat ilmu. Namun melihat pelajar sekarang rasanya tidak demikian berinteraksi dengan guru seperti tidak ada sopan-sopannya gitu. Sehingga ilmu yang dipelajari sukar didapatkan dan jadilah pelajar itu “laa `ilma wa laa adab” yang artinya tidak memiliki ilmu dan adab. Kalau kata orang sunda mah “nya bangor, nya tolol”. Padahal guru merupakan sosok yang harus dihormati oleh pelajar. Ia tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan mengagungkan guru. Bisa saja mendapat ilmu tapi keberkahan dan manfaatnya tidak ada jika tidak menghormati guru. Sebab keberkahan ilmu memiliki dua ciri yaitu ilmu yang diamalkan dan disebarkan. Setelah melihat hal yang demikian di lingkungan terdekat. Saya menelusuri lebih lanjut dan ternyata memang ada penelitian menyebutkan bahwa sejak tahun 2000 pelajar mengalami penurunan empati 40% dibanding 20-30 tahun lalu. Lantas bagaimana kita menanggapi hal ini? Apakah bersikap “ya udah lah yaa, toh udah ada kepastiannya dari nabi Muhammad ﷺ bahwa generasi ke generasi itu akan mengalami penurunan kualitas”?. Namun saya pernah mendengar penjelasan guru saya Kyai Jajang Saepul Abidin, kurang lebihnya kita diberi keterangan semacam itu justru supaya kita tidak termasuk di dalamnya. Well. Supaya kita tidak termasuk generasi yang tidak beradab, kita cari dulu akar masalahnya, dimulai dengan pertanyaan “mengapa para pelajar sekarang tidak beradab?” Mungkin bisa banyak faktor, salah satunya bisa saja karena tidak diajarkan. Sehingga ia tidak tahu adab baik yang berujung munculnya generasi amoral. Sudahkah kita tahu bahwa duduk di bangku guru itu tidak boleh? atau berjalan di depan guru itu tidak sopan? atau meletakkan sesuatu di atas barang guru itu tidak diperkenankan? Baik, kalau kita bahas teknis tulisan ini akan sangat panjang pasti berujung tidak akan dibaca sama sekali. Karena sudah teu keyeng manten liatnya juga. Tulisan ini hanya sekedar pemantik agar kita bisa mempelajari lebih dalam dan lebih lanjut tentang tata krama dalam menuntut ilmu. Sedangkal pengetahuan saya setidaknya ada 3 kitab yang membahas adab dalam menuntut ilmu untuk kita pelajari, yakni Adabu al-` ālim Wa al-Muta`allim karya Hasyim Asy’ari Ta`līmu al-Muta`allim karya syaikh Az-Zarnuji At-Tibyān fī adabi ḥamalati al-Qur’an karya imam An-Nawāwī, Kita bisa belajar ketiga kitab tersebut secara talaqi kepada guru-guru kita yang sudah paham ini sangat disarankan, atau kita bisa sekedar membaca terjemahnya terlebih dahulu. Kemudian nanti dicocokkan dengan penjelasan para guru. Misalnya kita bisa membeli buku terjemah Ta`līmu al-Muta`allim terbitan lirboyo press, atau buku Nurul Bayan terjemah dari kitab At-Tibyān yang disusun oleh Ustadz Roisudin dari Hanifa Darul Hidayah. Kemudian dapat dikaji entah itu dengan cara ngaji ngalogat ala pesantren, ikut seminar, baca buku, atau apapun itu kemasannya, intinya kita belajar. Dengan harapan kita dan generasi setelahnya menjadi generasi yang beradab sebab dengan adab inilah kita bisa menjadi manusia yang berharga. Ali Bahtiar Co-Founder Inspiring Generation Navigasi pos
loading...ilustrasi. Foto istimewa Keberkahan ilmu yang diperoleh diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Misalnya, bertahun-tahun belajar serta mendatangi majelis ilmu majlis ta'lim, tetapi masih banyak keburukan pada diri, berarti itu tidak ada keberkahan. Baca juga Cara Mendapatkan Hidayah dan Cahaya Allah Ta'ala Lantas, bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa ilmu itu sudah diberkahi oleh Allah Ta'ala dan bermanfaat bagi diri sendiri? Menurut pengasuh kajian As-Sunnah di Jakarta, Ustadz Najmi Umar Bakkar, menukil dari kalam ulama, ciri-ciri orang yang mendapat keberkahan ilmu, antara lain 1. Ia terlihat semakin tulus ikhlas dalam beribadah kepada Allah, dan semakin sesuai dengan syariat & sunnah Nabi ﷺ dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu, mendakwahkan dan mempertahankan al-Barbahari Rahimahullah berkata "Dan ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwasanya keberkahan ilmu itu bukanlah dengan banyaknya hafalan riwayat serta kitab2. Hanyalah dikatakan seorang yang 'alim itu adalah siapa yang telah mengikuti mengamalkan ilmu dan sunnah2, sekalipun sedikit ilmu dan kitab2nya. Dan barangsiapa menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah, maka dia adalah pelaku bid'ah, sekalipun banyak ilmu dan kitab2nya" Kitab Syarhus Sunnah. Baca Juga 2. Ilmu itu semakin menumbuhkan rasa takutnya seseorang kepada Allah Ta' النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَالۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَ لۡوَانُهٗ كَذٰلِكَ ؕ اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ غَفُوۡرٌ"........Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama ahli ilmu" QS. Fathir 28Siapa yang takut kepada Allah, maka dialah alim, yaitu seorang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah, maka dialah jahil orang yang jauh dari ilmu.3. Ilmu tersebut mendorong seseorang untuk semakin semangat dalam melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi berbagai kemaksiatan . Baca Juga 4. Ilmu itu akan mengantarkan seseorang pada sifat qana’ah selalu merasa cukup dan zuhud pada Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata "Zuhud itu terbagi tiga 1. meninggalkan yang haram, maka itu ialah zuhudnya orang yg awam. 2. tidak berlebihan dari sesuatu yang halal, & itu zuhudnya dari orang yang khusus. 3. meninggalkan setiap hal yang menyibukkan serta menjauhkan dari Allah, maka itu zuhudnya al-arifin yaitu orang yang berma'rifat kepada Allah" kitab Mawaa'izh Imam Ahmad.5. Ilmu tersebut akan menjadikan pada diri seseorang semakin tawadhu’ rendah hati. Menjadikan hati tunduk dan khusyuk kepada Allah Ta'ala, merasa hina di hadapan-Nya dan semakin mudah untuk menerima kebenaran dari siapa bin Dinar berkata "Sesungguhnya jika engkau menuntut ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatmu tawadhu. Jika engkau menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanyalah akan membuatmu semakin berbangga diri sombong" Kitab Az-Zuhd oleh Imam Ahmad. Baca Juga Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata "Dan di antara tanda bahwa amal ibadah kita diterima adalah kita akan merendahkan, mengkerdilkan dan menganggapnya kecil di hati kita" Buku Madarijus Saalikiin.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang dapat meningkatkan pemahaman atau kompetensi dari masing-masing individu. Dengan adanya ilmu kita yang awalnya tidak mengetahui tentang apa-apa menjadi semakin tahu. Ilmu ini mengenai pemahaman terhadap suatu bidang, ada ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Tentunya suatu ilmu bisa kita dapatkan dari seseorang yang memberikan wawasan nya pada diri kita. Biasanya sering disebut guru. Guru adalah seseorang yang mencoba untuk memberikan ilmu yang diketahuinya kepada orang yang kita dapatkan harusnya kita pelajari. Akan tetapi, janganlah bila makin belajar, makin berlagak dengan guru, bercakap menunjuk pandai di depan guru, akhirnya semakin banyak yang dipelajari, semakin membuat kita jauh dari dari itu keberkahan ilmu yang kita punya berawal dari bagaimana adab kita terhadap guru yang telah memberikan ilmunya. Kita harus menjaga adab kita terhadap guru. Bagaimana cara kita menjaga adab terhadap guru kita? Pertama, kita harus memberi salam apabila bertemu dengan guruKedua, tidak banyak berkata-kata dihadapan guruKetiga, tidak memulai suatu pembicaraan tanpa adanya izin dari guruKeempat, tidak pernah membantah apa yang diperintahkan oleh guru Kelima, tidak pernah merasa pandai atau lebih tau diri dibandingkan dengan guruKeenam, tidak membicarakan kejelekan guru kitaKetujuh, janganlah berburuk sangka dengan guruSemoga bermanfaat Lihat Pendidikan Selengkapnya
Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ilustrasi. Belajar ilmu harus senantiasa disertai dengan tawadhu dan patuh guru agar berkah JAKARTA— Seorang murid selayaknya mempererat hubungan dengan gurunya. Kendatipun bertempat tinggal jauh dari guru maka hendaknya seorang murid tetap berupaya untuk menjaga hubungannya agar tetap kuat. Sebab dengan cara seperti itulah ilmu yang telah didapat dari guru akan menjadi berkah. Lalu bagaimana memiliki ketersambungan hati dengan guru agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah? Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya mengatakan semakin seseorang cinta dan memiliki tata krama kepada guru maka itu adalah yang mengundang keberkahan ilmu. Oleh karena itu Buya Yahya mengingatkan agar tidak merasa cerdas di depan guru dan berupaya menguji guru dengan mengandalkan kecerdasannya. Buya Yahya mencontohkan ada orang yang sulit memahami ilmu meski telah belajar berulang kali tetapi karena memiliki tata krama kepada gurunya hingga akhirnya Allah SWT memberikan keteguhan dalam hatinya yang membuat orang tersebut mampu mengamalkan setiap ilmu yang telah diajarkan gurunya. "Maka benar ternyata ikatan dengan guru ketersambungan hati dengan guru agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah yaitu tawadhu dengan guru, cinta dengan guru dan khidmat kepada guru," kata Buya Yahya saat program tanya jawab dalam kajian rutin yang juga disiarkan melalui kanal resmi YouTube Al Bahjah TV beberapa hari lalu. Lebih lanjut Buya Yahya mengatakan orang yang mencintai guru adalah dengan mendoakan guru setiap saat. Orang yang mendoakan guru sejatinya tengah berupaya menurunkan keberkahan bagi diri sendiri. Selain itu dalam bertata krama, seorang murid melakukannya dari hati bukan sebatas basa basi. Maka seorang murid harus memiliki akhlak yang luhur pada gurunya baik di hadapannya maupun tidak dihadapan guru. Dengan begitu keberkahan ilmu akan terjaga. Selain itu menurut Buya Yahya murid dapat menggapai keberkahan ilmu dengan berkhidmat. Baik berkhidmat dengan tenaga maupun harta dalam rangka membantu program dakwah guru. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Pamekasan, NU OnlineKini banyak orang berilmu, namun banyak pula yang kurang memberi manfaat hidupnya, baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain."Itu karena ilmunya kurang barokah. Karenanya, seorang murid atau santri mesti mengutamakan serta merawat keberkahan ilmu," terang Kiai Abdul Basith saat menyampaikan tausiyahnya di Pesantren Nurul Ulum, Palengaan Daya, Palengaan, Pamekasan, Jumat 28/4 satu upaya untuk mendapatkan keberkahan ilmu, tambahnya, adalah dengan menghormati guru kiai yang menjadi perantara aliran ilmu Allah. Dari sinilah karakter adab seorang murid atau santri teruji."Menghormati di sini dalam rangka mendapatkan barokahnya guru atau kiai kita. Guru atau kiai pasti mendoakan murid atau santrinya. Ketika doa guru dan murid sudah bersinergi, Insyaallah keberkahan ilmu terkristal dengan sendirinya," tegas Kiai Teologi Islam tersebut menambahkan, keberkahan ilmu itu tidak ada bukunya, tidak ada tokonya, apalagi pasarnya. Sedangkan ilmu ada bukunya, ada tokonya institusinya."Sementara البركة تؤتى ولا تاءتي; barakah itu harus dicari, tidak cukup dengan belajar. Tapi, juga dengan cara berkhidmat mengabdi dan hormat kepada pengajar ilmu kiai atau guru," Basith selanjutnya memberikan contoh kasus murid membunuh gurunya di Kabupaten Sampang, yaitu kasus almarhum seorang guru bernama Budi Cahyono."Cukup sekali kasus seperti itu, semoga kita semua dilimpahi ilmu yang barokah," pungkasnya. Hairul Anam/Muiz
keberkahan ilmu dari guru